Mitos Jam Tangan yang Masih Banyak Dipercaya, dan Fakta Sebenarnya

Jam tangan sudah menemani manusia selama lebih dari satu abad, jadi wajar kalau banyak cerita beredar di sekitarnya. Sebagian cerita itu benar, sebagian setengah benar, dan sebagian lagi keliru tapi terus diwariskan dari mulut ke mulut. Masalahnya, mempercayai mitos yang salah bisa membuat jam kesayangan Anda rusak lebih cepat, atau membuat Anda mengeluarkan uang untuk hal yang sebenarnya tidak perlu.
Mari kita luruskan satu per satu.
Mitos 1: "Water resistant 30 meter berarti aman dipakai menyelam sampai 30 meter"

Ini mungkin mitos paling berbahaya bagi jam tangan. Angka 30M (atau 3 ATM) pada jam bukan berarti Anda bisa membawanya ke kedalaman 30 meter. Angka itu adalah hasil uji tekanan statis di laboratorium, sedangkan di dunia nyata gerakan tangan saat berenang, semburan air shower, atau lompatan ke kolam bisa menciptakan tekanan yang jauh lebih besar.
Sebagai patokan kasar: jam 30M hanya tahan cipratan air dan hujan, 50M aman untuk mencuci tangan dan kadang berenang santai, 100M cukup untuk berenang dan snorkeling, sedangkan untuk menyelam sebaiknya gunakan jam selam khusus dengan rating minimal 200M.
Mitos 2: "Ketahanan air itu berlaku selamanya"

Banyak orang mengira jam yang dulu tahan air akan tetap tahan air seumur hidup. Kenyataannya, ketahanan air bergantung pada karet penyekat (gasket) yang bisa mengeras, retak, atau menyusut seiring waktu, terutama jika sering terkena panas, sabun, atau air laut. Jika jam Anda sering dipakai di air, ada baiknya dites ulang di tukang servis tepercaya secara berkala, apalagi setelah mengganti baterai.
Mitos 3: "Jam mahal pasti lebih akurat"

Justru sebaliknya. Jam quartz seharga ratusan ribu rupiah umumnya jauh lebih akurat daripada jam mekanis seharga ratusan juta. Jam quartz biasa hanya meleset sekitar belasan detik per bulan, sementara jam mekanis bersertifikat chronometer COSC masih dianggap sangat baik jika melesetnya di kisaran minus 4 hingga plus 6 detik per hari.
Orang membeli jam mekanis mahal bukan demi akurasi, melainkan karena keahlian pembuatannya, material, desain, dan nilai seni dari ratusan komponen kecil yang bekerja tanpa baterai.
Mitos 4: "Jam otomatis tidak perlu diservis karena tidak pakai baterai"

Tidak pakai baterai bukan berarti bebas perawatan. Di dalam jam otomatis ada roda gigi, per, dan poros yang terus bergesekan dan membutuhkan pelumas. Seiring waktu, pelumas itu mengering atau mengental, sehingga gesekan meningkat dan komponen bisa aus.
Sebagian besar produsen menyarankan servis menyeluruh setiap beberapa tahun sekali, dengan interval yang berbeda-beda tergantung merek, biasanya antara 5 hingga 10 tahun. Tanda jam perlu diservis lebih cepat antara lain akurasinya tiba-tiba memburuk atau jam cepat mati meski rutin dipakai.
Mitos 5: "Jam otomatis akan rusak kalau tidak dipakai setiap hari"

Jam otomatis yang tidak dipakai hanya akan berhenti ketika cadangan tenaganya habis, biasanya setelah 38 hingga 80 jam tergantung mesinnya. Berhenti bukan berarti rusak. Untuk menghidupkannya kembali, cukup putar crown beberapa puluh kali (untuk jam yang mendukung pemutaran manual) atau goyangkan perlahan, lalu atur ulang jam dan tanggalnya.
Watch winder, kotak yang memutar jam secara otomatis, sifatnya opsional. Alat ini praktis bagi yang punya banyak jam dengan fitur rumit, tapi bukan kewajiban.
Mitos 6: "Mengganti tanggal jam kapan saja itu aman"

Nah, yang satu ini sering dianggap mitos padahal justru ada benarnya. Pada banyak jam mekanis, mekanisme pergantian tanggal mulai bekerja sekitar pukul 9 malam hingga 3 pagi. Jika Anda memutar tanggal secara manual di rentang waktu tersebut, roda gigi tanggal bisa bertabrakan dengan mekanisme yang sedang bergerak dan berisiko merusaknya.
Cara amannya: putar jarum ke posisi sekitar pukul 6 dulu, baru ubah tanggal, lalu atur jam ke waktu yang benar. Untuk kepastian, cek buku manual jam Anda karena setiap mesin bisa berbeda.
Mitos 7: "Kaca sapphire tidak bisa pecah"

Kaca sapphire memang sangat tahan gores, bahkan hanya kalah keras dari berlian. Namun tahan gores tidak sama dengan tahan benturan. Justru karena sangat keras, sapphire cenderung lebih getas dan bisa retak atau pecah jika terbentur keras di sudut yang salah, misalnya terbentur kusen pintu atau jatuh ke lantai keramik. Kaca mineral yang lebih "lunak" memang lebih mudah tergores, tapi pada kondisi tertentu malah lebih tahan terhadap benturan.
Mitos 8: "Magnet tidak berpengaruh pada jam tangan"

Di era sekarang, kita dikelilingi magnet: speaker ponsel, laptop, penutup tablet, kunci tas, hingga kulkas. Pada jam mekanis, medan magnet bisa membuat per rambut (hairspring) di dalamnya saling menempel, sehingga jam tiba-tiba berjalan jauh lebih cepat, bisa sampai beberapa menit per hari.
Kabar baiknya, masalah ini biasanya tidak permanen. Tukang servis jam bisa melakukan demagnetisasi dalam hitungan menit dengan biaya relatif murah. Untuk pencegahan, hindari meletakkan jam mekanis tepat di atas laptop, speaker, atau di samping ponsel semalaman.
Mitos 9: "Jam tangan harus dipakai di tangan kiri"

Ini lebih ke kebiasaan daripada aturan. Tradisi memakai jam di tangan kiri muncul karena mayoritas orang menggunakan tangan kanan, sehingga jam di tangan kiri lebih terlindung dan crown-nya lebih mudah diputar dengan tangan kanan. Jika Anda kidal atau merasa lebih nyaman di tangan kanan, silakan saja. Bahkan ada jam yang dirancang khusus dengan crown di sisi kiri untuk pemakai tangan kanan.
Penutup
Mengetahui mana yang mitos dan mana yang fakta akan membantu Anda merawat jam tangan dengan lebih bijak. Singkatnya: jangan terlalu percaya angka water resistance, rawat jam otomatis secara berkala, jauhkan jam mekanis dari magnet, dan hati-hati saat mengganti tanggal di malam hari.
Punya mitos jam tangan lain yang sering Anda dengar? Tulis di kolom komentar, siapa tahu bisa dibahas di artikel berikutnya!
